Gunungsitoli, Berkatnews7.com – Musyawarah Pastoral (MUSPAS) Paroki Kristus Gembala Baik Hiliserangkai berlangsung khidmat di Aula Santa Maria, Gunungsitoli, Sabtu (31/10/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat iman, persaudaraan, serta meningkatkan pelayanan pastoral kepada umat dan masyarakat.

Kegiatan tersebut diikuti ratusan peserta yang terdiri dari para ketua lingkungan, ketua stasi, pengurus Dewan Pastoral Paroki (DPP), Dewan Pastoral Stasi (DPS), para suster, katekis, Orang Muda Katolik (OMK), serta para pegiat pastoral.

MUSPAS tidak sekadar menjadi forum rapat rutin, tetapi juga ruang bersama untuk mendengarkan aspirasi, mengevaluasi pelayanan, dan merumuskan arah pastoral paroki ke depan.

Kegiatan diawali dengan Perayaan Ekaristi Kudus yang dipimpin oleh Pastor Paroki Kristus Gembala Baik Hiliserangkai. Dalam homilinya, Pastor Paroki menekankan pentingnya semangat Gereja Sinodal, yakni berjalan bersama, saling mendengarkan, dan bekerja sama dalam menjalankan misi pelayanan Gereja.

Menurutnya, MUSPAS merupakan kesempatan bagi seluruh elemen paroki untuk mencari kehendak Tuhan dan memperkuat komitmen sebagai pelayan umat.

Kristus Gembala Baik memanggil setiap umat bukan sekadar menjadi penonton, melainkan turut mengambil bagian dalam pelayanan dan karya pastoral di tengah masyarakat Nias.

Setelah Perayaan Ekaristi, seluruh peserta melanjutkan kegiatan dengan sidang MUSPAS di Aula Santa Maria.

MUSPAS kali ini mengangkat tema “Menjadi Paroki Kristus Gembala Baik Hiliserangkai yang Hidup, Mandiri, Misioner, dan Berbelarasa di Tengah Masyarakat Nias.”

Tema tersebut menjadi landasan penyusunan arah dan program pastoral untuk tiga tahun ke depan. Pembahasan dibagi ke dalam empat komisi utama.

Pertama, Komisi Liturgi dan Pewartaan. Komisi ini membahas upaya meningkatkan partisipasi umat dalam liturgi, pembinaan lektor, pemazmur, misdinar, serta penguatan katekese. Salah satu usulan yang disepakati adalah pembinaan liturgi secara berkala, termasuk bagi stasi-stasi yang jauh dari pusat paroki.

Kedua, Komisi Paguyuban dan Persaudaraan. Pembahasan berfokus pada pendampingan keluarga muda, pembinaan OMK, serta penguatan komunitas lingkungan. Persoalan kenakalan remaja, pernikahan dini, dan migrasi kaum muda ke luar Nias turut menjadi perhatian.

Ketiga, Komisi Pelayanan Sosial dan Berbelarasa. Komisi ini menyoroti pentingnya kehadiran Gereja bagi umat yang membutuhkan, khususnya keluarga kurang mampu, orang sakit, janda, duda, dan lanjut usia. Usulan yang dibahas meliputi pengaktifan pelayanan diakonia karitatif, kunjungan rutin kepada orang sakit, serta gerakan kepedulian sosial.

Keempat, Komisi Kemandirian Paroki dan Tata Kelola. Pembahasan mencakup penguatan ekonomi umat, kemandirian paroki, transparansi keuangan, dan pemeliharaan aset pastoral. Pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas juga menjadi bagian dari upaya membangun paroki yang mandiri.

Suasana diskusi berlangsung terbuka dan partisipatif. Para ketua stasi mendapat kesempatan menyampaikan kondisi serta tantangan pelayanan di wilayah masing-masing.

Sejumlah persoalan yang mengemuka antara lain akses jalan menuju stasi yang sulit dilalui saat musim hujan, keterbatasan tenaga katekis, serta harapan agar pelayanan pastor dapat menjangkau umat secara lebih intensif.

Di sisi lain, peserta juga menyampaikan perkembangan positif, termasuk pertumbuhan iman dan keterlibatan OMK dalam kegiatan pastoral.

Seorang peserta yang merupakan ketua stasi dari wilayah terjauh mengapresiasi pelaksanaan MUSPAS karena memberikan ruang bagi aspirasi umat dari wilayah yang jauh dari pusat paroki.

Ia berharap perhatian terhadap kebutuhan setiap stasi terus diperkuat sehingga seluruh umat dapat merasakan kebersamaan dan menjadi bagian penting dari kehidupan paroki.

Dari rangkaian pembahasan, MUSPAS menghasilkan sejumlah komitmen dan rekomendasi pastoral yang akan menjadi arah pelayanan bersama.

  1. Gerakan Satu Lingkungan Satu Aksi Kasih. Setiap lingkungan didorong melaksanakan sedikitnya satu aksi sosial setiap bulan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan tanpa membedakan agama maupun suku.
  2. Tahun Pembinaan OMK dan Keluarga. Tahun 2027 dicanangkan sebagai momentum pembinaan intensif bagi Orang Muda Katolik dan keluarga muda Katolik.
  3. Revitalisasi Katekese Stasi. Pembinaan katekis dan guru sekolah minggu akan diperkuat secara berjenjang agar pelayanan pendidikan iman dapat menjangkau anak-anak di berbagai stasi.
  4. Mewujudkan Paroki yang Ramah dan Terbuka. Gereja Paroki dan Aula Santa Maria diharapkan menjadi ruang kebersamaan yang ramah serta mendukung kegiatan positif umat dan masyarakat.

MUSPAS ditutup dengan doa bersama dan makan siang kasih di Aula Santa Maria. Seluruh peserta berbaur dalam suasana kekeluargaan, mencerminkan semangat persaudaraan tanpa sekat antara pastor, suster, pengurus pastoral, dan umat.

Melalui MUSPAS ini, Paroki Kristus Gembala Baik Hiliserangkai meneguhkan komitmen untuk terus bertumbuh, bukan hanya dalam pembangunan fisik, tetapi juga dalam kedewasaan iman, persaudaraan, kemandirian, dan pelayanan kasih.

Semangat tersebut diharapkan menjadi landasan bagi seluruh elemen paroki untuk mewujudkan Gereja yang hidup, misioner, dan hadir secara nyata di tengah masyarakat Nias.

Penulis: Yarmend