Gunungsitoli, http://Berkatnews7.com-Pemandangan mengharukan terjadi siang ini di salah satu sudut Kota Gunungsitoli. Tangis haru seorang bapak pecah tak terbendung ketika rombongan Gerakan Peduli yang dipimpin langsung oleh Dewan pembina Ir Armin telaumbanua tiba-tiba hadir di depan rumahnya yang sederhana, membawa harapan yang selama ini ditunggu. senin 2/11/2026

Keluarga tersebut adalah Keluarga Asana Telaumbanua ( Ama Gameli) di desa Saewe salah satu keluarga kurang mampu yang hidup dalam segala keterbatasan di Kota Gunungsitoli.

Kedatangan Gerakan Peduli dari Sekretariat Saombo hari ini menjadi bukti bahwa masih ada hati yang peduli di tengah kerasnya kehidupan di kota.

Bukan undangan resmi, bukan acara seremonial. Gerakan Peduli datang dengan cara paling tulus: mengetuk pintu, duduk bersama di lantai, dan mendengarkan.

POTRET KELUARGA ASANA: BERTAHAN HIDUP DI TENGAH KOTA YANG TERUS MEMBANGUN

Kota Gunungsitoli terus membangun. Gedung-gedung baru bermunculan, jalan-jalan dipercantik. Namun di balik semua kemajuan itu, masih ada potret buram yang sering luput dari pandangan: Keluarga Asana di Saewe kota Gunungsitoli

Tim Gerakan Peduli Faozan Zebua mendapati kondisi rumah Keluarga Asana sangat memprihatinkan. Dinding yang sudah rapuh, atap yang bocor jika hujan, dan perabotan seadanya. Tidak ada barang mewah di rumah itu. Yang ada hanya semangat untuk tetap bertahan hidup.

Sang kepala keluarga harus bekerja serabutan, apa saja dikerjakan demi sesuap nasi. Penghasilan tidak menentu. Hari ini dapat, besok belum tentu. harus putar otak setiap pagi, bagaimana caranya agar beras yang tinggal segenggam bisa cukup untuk makan anak-anak seharian.

Kami sudah terbiasa hidup susah, Bang. Yang penting anak-anak bisa makan, walaupun hanya dengan garam. Kami malu mau minta tolong sama siapa, karena kami rasa tidak ada yang peduli sama orang seperti kami,” lirih pak Asana tel saat ditemui tim. GP.

Kondisi inilah yang membuat Gerakan Peduli tergerak. Informasi tentang Keluarga Asana didapat dari laporan warga sekitar yang prihatin melihat kondisi mereka yang tidak pernah tersentuh bantuan apapun.

DETIK-DETIK YANG MENGHARUKAN: SAAT SEMBAKO DISERAHKAN

Rombongan Gerakan Peduli tiba dengan membawa paket sembako lengkap. Isinya bukan sekedar simbolis, tapi kebutuhan pokok yang benar-benar dibutuhkan Keluarga Asana saat ini:

Beras, Minyak Goreng, Gula, Telur, Mie Instan, Susu untuk anak, dan beberapa kebutuhan dapur lainnya.

Saat ibu bendahara Gerakan peduli menyerahkan langsung paket tersebut dan menjabat tangan bapak Asana, suasana hening seketika berubah haru. bapak Asana yang selama ini tegar menahan beban hidup, tak kuasa lagi menahan tangis. Air matanya tumpah. Tangis haru pecah di rumah kecil itu.

Anak-anak Keluarga Asana pun ikut memeluk ibunya, dengan wajah bingung sekaligus bahagia melihat ada beras dan telur di rumah mereka.

Ya Tuhan, terima kasih… terima kasih banyak Bang YD… terima kasih Gerakan Peduli dari Saombo. Kami tidak pernah bermimpi akan ada yang datang ke rumah kami yang buruk ini. Kami tidak pernah dapat bantuan.

Baru hari ini Tuhan kirim Abang ke sini. Semoga Abang sehat, panjang umur, dan rezekinya dilancarkan,” ucap Ibu Asana sambil menangis dan terus mengusap air matanya.

Semua kader Gerakan Peduli yang hadir pun ikut terdiam, menahan haru. Momen itulah yang menjadi pengingat, bahwa sekecil apapun bantuan, sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan.

PERNYATAAN BANG YD: INILAH ALASAN KENAPA GERAKAN PEDULI HARUS ADA

Melihat langsung kondisi Keluarga Asana dan pecahnya tangis haru tersebut, Bang YD menyampaikan pernyataan yang sangat mendalam dari lokasi:

Hari ini hati saya hancur melihat kondisi Keluarga Asana. Ini bukan di pedalaman hutan. Ini di Kota Gunungsitoli. Kota kita sendiri. Tapi masih ada keluarga yang untuk makan besok saja harus berpikir keras hari ini.

Tangis bapak Asana tadi adalah tamparan keras untuk kita semua. Untuk saya, untuk kita semua yang mengaku peduli. Selama ini kita terlalu sibuk dengan urusan politik, urusan proyek, urusan jabatan, sampai kita lupa ada tetangga kita yang kelaparan.

Gerakan Peduli hadir untuk rakyat bukan untuk gagah-gagahan. Kami lahir karena kami pernah merasakan susah. Kami tahu rasanya tidak punya beras. Makanya hari ini kami datang.

Sembako ini mungkin hanya cukup untuk seminggu dua minggu. Saya tahu itu tidak akan mengubah hidup Keluarga Asana selamanya.

Tapi saya ingin Keluarga Asana tahu satu hal: Mulai hari ini, kalian tidak sendiri. Kalian adalah keluarga kami. Keluarga besar Gerakan Peduli. Selama dapur kalian tidak mengepul, maka kami dari Saombo tidak akan pernah diam.

Saya titip pesan untuk Pemerintah Kota Gunungsitoli, untuk Dinas Sosial: Tolong buka mata, buka data. Masih banyak Keluarga Asana – Keluarga Asana lain di kota ini yang belum masuk DTKS, yang belum pernah dapat PKH, BPNT. Mereka butuh negara hadir. Jika Gerakan Peduli yang kecil dari Saombo saja bisa menemukan mereka, masakan negara yang besar tidak bisa?”

LEBIH DARI SEKEDAR SEMBAKO: GERAKAN PEDULI AKAN KAWAL KELUARGA ASANA

Aksi sosial hari ini tidak berhenti sampai penyerahan sembako selesai. Gerakan Peduli berkomitmen penuh untuk mengawal Keluarga Asana ke depan:

Perjuangan Administrasi Kependudukan:* Tim Gerakan Peduli akan membantu mengurus kelengkapan data Keluarga Asana agar bisa masuk dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) agar berhak mendapatkan bantuan pemerintah seperti PKH, BPNT, dan bantuan bedah rumah.

Kegiatan di kediaman Keluarga Asana ditutup dengan doa bersama. Tim Gp memimpin doa, memeluk anak-anak Keluarga Asana, dan berjanji akan kembali lagi.

Hari ini, dari sebuah rumah sederhana di Kota Gunungsitoli, Gerakan Peduli kembali membuktikan jati dirinya: Hadir bukan saat dibutuhkan suaranya, tapi hadir saat dibutuhkan hatinya.

Hari ini, tangis haru Keluarga Asana pecah, namun harapan baru pun tumbuh kembali…

Ya’aro Mendrofa