Silat Hilir, Kapuas Hulu, 22 Oktober 2026, http://Berkatnews7.com- Pembangunan infrastruktur penunjang transportasi air di wilayah perairan Sungai Kapuas kembali menjadi sorotan tajam.

Pembangunan fasilitas dermaga di Desa Perigi, Kecamatan Silat Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu, yang pertama kali dibuat dan dikerjakan pada tahun 2001 silam dengan alokasi anggaran mencapai miliaran rupiah, hingga kini diduga kuat menjadi “proyek siluman”.

Pasalnya, sejak awal pembuatannya di tahun 2001 tersebut, fisik bangunan dermaga tetap terbengkalai, mangkrak, dan tidak pernah memberikan azas manfaat bagi warga sekitar.

Berdasarkan penelusuran serta informasi dari warga setempat, pembuatan dermaga yang kini telah berusia lebih dari dua dekade itu tidak pernah diselesaikan secara tuntas.

Kondisi fisik dermaga saat ini memprihatinkan, dipenuhi kerusakan di berbagai sisi, dan disinyalir dikerjakan asal-asalan tanpa pengawasan yang ketat. Ketiadaan papan informasi proyek sejak masa pengerjaannya menambah kuat dugaan adanya praktik penyimpangan dana publik.

Kronologi Pembuatan Tahun 2001 dan Indikasi Pengerjaan Asal-Asalan

Pembuatan dermaga Desa Perigi yang dimulai pada tahun 2001 awalnya diharapkan menjadi sarana vital untuk menunjang mobilitas masyarakat, jalur distribusi barang, serta penggerak utama roda perekonomian warga di sepanjang pesisir Kecamatan Silat Hilir.

Namun, alih-alih berfungsi sebagai pusat aktivitas ekonomi, fisik bangunan hasil pengerjaan tahun 2001 itu justru dibiarkan terbengkalai hingga menjadi bangunan tua yang lapuk dan berbahaya.

> **”Pembuatan proyek dermaga ini dimulai sejak tahun 2001. Anggaran yang dikucurkan saat itu hingga tahap berikutnya kabarnya menyedot dana negara sampai miliaran rupiah. Tapi kenyataannya, sejak dibuat tahun 2001 sampai sekarang, dermaga ini tidak pernah selesai apalagi bisa dipakai warga. Uang miliaran seolah lenyap begitu saja,”** tegas salah seorang tokoh masyarakat Desa Perigi yang enggan disebutkan namanya.

Sejumlah catatan penting terkait pengerjaan dermaga ini meliputi:

* **Pengerjaan Awal Tahun 2001 yang Tidak Selesai:** Sejak fisik pertama kali dibangun pada tahun 2001, pengerjaan dihentikan tanpa alasan yang jelas kepada publik.

* **Minimnya Transparansi:** Papan nama proyek tidak pernah dipasang secara transparan di lokasi pembuatan, sehingga warga tidak mengetahui secara pasti rincian Rencana Anggaran Biaya (RAB) maupun nama perusahaan kontraktor pelaksana.

* **Kualitas Bangunan Rendah:** Konstruksi yang dibuat pada tahun 2001 tersebut terindikasi menggunakan material yang tidak sesuai spesifikasi teknis bangunan perairan, sehingga cepat rusak sebelum sempat dimanfaatkan.

* Dampak Kerugian Warga Akibat kegagalan proyek tahun 2001 ini, warga Desa Perigi terpaksa tetap menggunakan dermaga kayu tradisional seadanya yang minim standar keselamatan.

Desakan Pengusutan dan Audit oleh Aparat Penegak Hukum (APH)

Ketidakjelasan status penyelesaian serta pengawasan atas pembuatan proyek tahun 2001 ini memicu desakan keras dari masyarakat agar aparat penegak hukum segera turun tangan mengusut aliran dana miliaran rupiah yang diduga raib.

Elemen masyarakat dan LSM setempat mendesak Kepolisian, Kejaksaan, hingga Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Inspektorat untuk melakukan langkah-langkah konkret:

1. **Audit Investigatif Proyek 2001:** Mengusut tuntas dokumen perancangan, penganggaran, hingga realisasi dana sejak proyek ini pertama kali dibuat pada tahun 2001.

2. **Cek Fisik dan Forensik Konstruksi:** Melakukan pemeriksaan teknis di lapangan untuk mengukur kesesuaian antara besaran anggaran miliaran rupiah dengan hasil fisik yang ada.

3. **Pemeriksaan Pihak Terkait:** Memanggil dan mengklarifikasi pejabat pembuat komitmen (PPK), instansi teknis penanggung jawab, serta kontraktor pelaksana yang terlibat dalam pengerjaan proyek tersebut.

Masyarakat Desa Perigi berharap ada tindakan tegas dan transparan dari APH agar kasus pembangunan dermaga tahun 2001 ini terang benderang, serta uang negara yang telah terpakai dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Sampai berita ini diturunkan, pihak instansi teknis maupun kontraktor pelaksana belum memberikan tanggapan resmi mengenai kejelasan proyek tersebut.

Pewarta: Si juli