Gunungsitoli, Berkatnews7.com – Bang YD melontarkan kritik tajam terhadap pola kepemimpinan yang dinilainya lebih banyak diwarnai alasan, keluhan, dan saling menyalahkan ketika kemajuan daerah belum menunjukkan hasil yang diharapkan masyarakat.

Menurut Bang YD, jabatan bukan sekadar kursi kekuasaan, fasilitas dinas, pengawalan, gelar kehormatan, ataupun panggung untuk menyampaikan pidato. Lebih dari itu, jabatan merupakan amanah dan tanggung jawab besar yang harus dibuktikan melalui kerja nyata demi kesejahteraan rakyat.

Ia menilai, salah satu kesalahan mendasar dalam kepemimpinan adalah ketika jabatan dianggap sebagai tujuan akhir, bukan sebagai sarana untuk membawa perubahan dan kemajuan bagi masyarakat.

“Jabatan adalah amanah. Jabatan adalah tanggung jawab. Jabatan juga merupakan utang janji kampanye yang harus dibayar melalui kerja nyata,” demikian inti pandangan Bang YD, Rabu (21/10/2026).

Bang YD mempertanyakan makna sebuah jabatan apabila setelah bertahun-tahun menjabat, kondisi daerah masih berjalan di tempat.

Menurutnya, masyarakat berhak mempertanyakan hasil kepemimpinan ketika persoalan kemiskinan belum tertangani secara optimal, lapangan kerja masih terbatas, infrastruktur belum memadai, serta pelayanan publik belum memberikan kemudahan bagi masyarakat.

Ia juga menyoroti kondisi generasi muda yang terpaksa merantau untuk mencari pekerjaan karena terbatasnya peluang ekonomi di daerah asal.

“Untuk apa jabatan itu jika setelah dua, tiga, bahkan lima tahun, daerah tetap begitu-begitu saja? Untuk apa jabatan itu jika anak-anak muda masih harus merantau karena tidak ada lapangan kerja di kampungnya sendiri?” menjadi pertanyaan kritis yang disampaikannya.

Bang YD mengibaratkan pemimpin yang tidak mampu membawa kemajuan seperti seorang sopir yang duduk di belakang kemudi, tetapi tidak menjalankan kendaraannya.

Mesin menyala, fasilitas tersedia, tetapi kendaraan tidak bergerak. Dalam perumpamaan itu, rakyat menjadi pihak yang paling dirugikan.

Baginya, jabatan bukanlah tujuan akhir, melainkan alat untuk mencapai tujuan yang lebih besar, yakni kemajuan daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Selain menyoroti minimnya kemajuan, Bang YD juga mengkritik kebiasaan sebagian pemimpin yang dinilai terlalu sering menggunakan alasan ketika program tidak berjalan sesuai harapan.

Mulai dari persoalan anggaran, regulasi, kinerja bawahan, kondisi cuaca, hingga kebijakan pemimpin sebelumnya, berbagai faktor kerap dijadikan penjelasan atas tidak tercapainya target.

Namun, menurutnya, pemimpin seharusnya tidak berhenti pada penjelasan mengenai hambatan. Mereka harus mampu menyusun langkah konkret untuk mengatasi persoalan tersebut.

“Rakyat tidak memilih pemimpin karena pintar mencari alasan. Rakyat memberikan kepercayaan karena berharap pemimpin mampu mencari jalan keluar,” tegasnya dalam kritik tersebut.

Ia menilai, kepemimpinan membutuhkan keberanian mengambil keputusan, kemampuan menyusun strategi, serta kesungguhan mencari solusi di tengah keterbatasan.

Bagi Bang YD, tantangan memang selalu ada dalam pemerintahan. Namun, tantangan seharusnya menjadi alasan untuk bekerja lebih keras, bukan pembenaran untuk terus menunda perubahan.

Bang YD juga menyinggung sikap pemimpin yang terlalu sering mengeluhkan keterbatasan anggaran, beratnya tanggung jawab, dan banyaknya tantangan setelah memperoleh jabatan.

Menurutnya, seorang pemimpin harus memahami bahwa masyarakat menghadapi persoalan yang tidak kalah berat, bahkan sering kali jauh lebih mendesak.

Masyarakat berhadapan dengan kenaikan harga kebutuhan pokok, sulitnya memperoleh pekerjaan, persoalan infrastruktur, keterbatasan akses pendidikan, serta berbagai persoalan pelayanan publik.

Karena itu, ia mengingatkan agar pemimpin tidak hanya menyampaikan keluhan, tetapi juga menunjukkan upaya nyata untuk memperbaiki keadaan.

“Rakyat membutuhkan solusi, bukan sekadar keluhan. Ketika seseorang bersedia maju untuk memimpin, ia juga harus siap menghadapi tantangan dan mempertanggungjawabkan kepercayaan yang diberikan kepadanya,” demikian pesan yang ditekankan Bang YD.

Ia berpandangan bahwa keterbatasan memang perlu disampaikan secara terbuka kepada masyarakat. Namun, keterbukaan tersebut harus disertai langkah penyelesaian yang jelas dan terukur.

Dalam kritik berikutnya, Bang YD menyoroti kebiasaan saling menyalahkan ketika program tidak mencapai target atau kebijakan tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Ia menilai, budaya menyalahkan bawahan, sistem, media, masyarakat, ataupun pemimpin terdahulu tidak akan menyelesaikan persoalan apabila tidak diikuti evaluasi dan tindakan perbaikan.

Menurutnya, pemimpin yang bertanggung jawab harus berani mengevaluasi kebijakan, mengakui kekurangan, memperbaiki kesalahan, serta memastikan setiap program memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Keberhasilan adalah hasil kerja bersama, sedangkan ketika terjadi kegagalan, pemimpin harus berani mengambil tanggung jawab dan melakukan perbaikan. Jangan hanya menunjuk orang lain,” menjadi pesan penting dalam pandangannya.

Ia juga mengingatkan bahwa kepercayaan masyarakat tidak dapat dipertahankan hanya melalui pencitraan atau kata-kata. Kepercayaan harus dibangun melalui konsistensi antara janji, kebijakan, dan hasil kerja.

Menutup pernyataannya, Bang YD mengajak para pemimpin untuk kembali memahami hakikat jabatan sebagai amanah yang harus dijalankan demi kepentingan masyarakat.

Ia menegaskan, apabila seorang pemimpin belum berhasil membawa kemajuan, yang dibutuhkan adalah evaluasi dan kerja lebih keras. Ketika menghadapi hambatan, yang diperlukan adalah solusi. Sementara ketika terjadi kegagalan, yang harus dikedepankan adalah tanggung jawab.

Menurutnya, kombinasi minimnya kemajuan, banyaknya alasan, keluhan, dan kebiasaan menyalahkan pihak lain dapat menjadi beban bagi pembangunan daerah apabila tidak segera diperbaiki.

Bang YD juga mengingatkan para pemimpin agar lebih dekat dengan masyarakat, mendengarkan keluhan secara langsung, serta memahami kebutuhan rakyat tanpa terhalang oleh sekat kekuasaan.

“Turunlah ke bawah. Lihat rakyatmu dan dengarkan keluhan mereka. Jika masih memiliki kepedulian terhadap nasib masyarakat, tunjukkan melalui kerja nyata. Daerah ini terlalu berharga untuk dikorbankan demi ego dan gengsi segelintir orang yang menganggap jabatan hanya sekadar kedudukan,” demikian pesan Bang YD.

Penulis: Yarmend