Gunungsitoli – BerkatNews7.com – Sakit tidak hanya menggerogoti fisik, tetapi juga menguji ketabahan hati. Di saat itulah kehadiran orang-orang yang tulus peduli menjadi penawar yang paling berharga. Pesan inilah yang dibawa keluarga besar Gerakan Peduli saat menjenguk salah satu anggotanya, Yessy Sho, di kediamannya pada Jumat (3/7/2026).

Kunjungan ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Mereka datang membawa doa, semangat, dan keyakinan teguh bahwa tidak ada satu pun anggota Gerakan Peduli yang dibiarkan berjuang sendirian saat menghadapi cobaan.

Dalam suasana yang penuh kehangatan, rombongan juga menyerahkan bantuan yang dikirim langsung oleh Yusman Dawolo (Bang YD) yang saat ini sedang berada di Jakarta. Sebagai penggagas gerakan ini, Bang YD membuktikan bahwa kepedulian tidak mengenal jarak. Meski tidak dapat hadir secara fisik, perhatian dan kasih sayangnya tetap terasa hingga ke hati yang membutuhkan.

“Gerakan Peduli lahir bukan hanya untuk berkumpul dalam suka, tetapi untuk saling menguatkan dalam duka. Ketika ada saudara yang sakit atau kesulitan, sudah menjadi panggilan hati kami untuk hadir, memberi semangat, dan meringankan bebannya,” ujar perwakilan rombongan.

Nilai bantuan yang disampaikan mungkin tidak serta-merta menghapus seluruh beban penyakit, namun perhatian yang tulus ini mampu menumbuhkan harapan baru. Sering kali seseorang tidak membutuhkan kemewahan, melainkan kepastian bahwa ia tidak dilupakan dan masih banyak orang yang mendoakannya.

Suasana haru menyelimuti pertemuan tersebut. Dengan mata berkaca-kaca dan suara yang bergetar menahan tangis, Yessy Sho menyampaikan rasa syukur yang mendalam.

“Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bang YD. Semoga beliau senantiasa sehat, rezekinya lancar, dan seluruh keluarganya selalu dalam lindungan Tuhan. Terima kasih juga kepada seluruh sahabat Gerakan Peduli yang hadir untuk menguatkan saya. Kebaikan ini akan selalu saya kenang selamanya. Semoga Tuhan membalas ketulusan kalian dengan berkat yang melimpah,” ucapnya.

Bagi Bang YD, kepedulian bukan sekadar kata-kata, melainkan tindakan nyata. Melalui Gerakan Peduli, ia terus menanamkan nilai bahwa persaudaraan sejati diuji saat kita hadir menopang sahabat yang sedang jatuh, bukan hanya saat mereka sedang tegak dan bersukacita.

Kunjungan ini menjadi bukti nyata: ikatan persaudaraan tidak diukur dari seberapa sering bertemu, melainkan dari kesediaan untuk saling memikul beban. Sebab, kepedulian yang tulus tidak hanya meringankan penderitaan, tetapi juga menyalakan kembali harapan yang sempat meredup.